14 September 2026

Riset: Gamelan Sunda di peresmian Menara Eiffel seabad lalu bukan Sari Oneng

Gamelan yang dipercaya pernah dibawa ke Paris 1889 bukan Sari Oneng. Demikian hasil riset terbaru. Gamelan “tak bernama” itu bersemayam di Hamburg setelah lebih dari seabad lalu tampil saat peresmian Menara Eiffel.

Kurang dari satu jam sebelum sebuah seminar dan gamelan bertajuk: ”Dari Perkebukan Teh Jawa Barat ke Debussy, Kehidupan Mendunia Gamelan Sunda”, dimulai pada tanggal 06 September 2026 lalu, sebuah gamelan tua bersemayam di meja panjang, di samping meja pembicara. Bukan di Pulau Jawa. Bukan pula di Paris. Melainkan di MARKK Museum am Rothenbaum, di Hamburg, Jerman. Hanya satu gamelan kecil. Perangkat-perangkat gamelan lainnya, seperti kendang, gong, kenong tidak mendampinginya. Sebagian perangkatnya masih dapat dikenali, sebagian lainnya rapuh, bahkan keberadaan lengkap satu set gamelan itu belum seluruhnya terlacak.

Namun gamelan inilah – menurut para peneliti – yang pernah menyeberangi lautan dan tampil di Paris pada 1889, di sebuah pameran dunia yang menjadi salah satu peristiwa kebudayaan terbesar pada zamannya: Pameran dunia Exposition Universelle. Di bawah bayang-bayang Menara Eiffel yang baru saja dibuka, bunyi gamelan dari Jawa Barat ini pernah mengalun Menembus isi kepala musisi klasik kala itu Claude Debussy. Setahun kemudian, satu set gamelan ini tidak diketahui keberadaannya, tak dikenali hingga dua tahun belakangan.

“Gamelan yang dimainkan di pameran dunia Exposition Universelle tahun 1889 di Champ-de-Mars, tepat di sebelah Menara Eiffel yang kala itu baru saja dibuka, bukan gamelan Sari Oneng, yang selama ini disebut-sebut bahkan ditulis di media-media besar,” ujar Geraldus Martimbang, peneliti kolonialisme sekaligus arsitek, di sela-sela persiapan pameran dan lokakarya gamelan di Hamburg. “Jadi gamelan Sari Oneng tidak pernah jalan-jalan ke Paris,” tegasnya berdasrkan hasil temuan teranyar yang dipimpin peneliti Angela López Lara.

Kalimat itu seperti membuka kembali sebuah pintu sejarah yang selama ini dianggap telah tertutup. Selama bertahun-tahun, beredar anggapan bahwa gamelan Sari Oneng pernah dibawa ke Paris untuk dipertunjukkan dalam Exposition Universelle 1889. Narasinya: Seperangkat gamelan dari tanah Jawa menempuh perjalanan jauh ke Eropa, tampil di hadapan dunia, lalu kembali ke tanah asalnya.

Tetapi riset terbaru rupanya menyimpan perangkat cerita yang berbeda. Gamelan yang dimainkan di Paris bukan Sari Oneng, maupun gamelan Jawa, tegas Geraldus. Lalu, gamelan apakah yang mengalun selama pameran dunia itu? Ke mana ia mengelana setelah pesta besar tersebut usai?

Sebuah ansambel tanpa nama

“Gamelan tak bernama yang keberadaannya selama ini jadi misteri, kondisinya sekarat. Oleh sebab itu, meski gamelan ini yang jadi fokus lokakarya, pada malam ini setelah lokakarya kita akan gelar konser dengan gamelan lain. Bahkan konser malam ini kita pakai gamelan Jawa, bukan gamelan Sunda, karena tak mudah mencari perangkat gamelan Sunda di Jerman, ” tegas Geraldus sambil memeriksa persiapan acara.

Tak banyak yang tersisa dari kejayaan ansambel tersebut. Tetapi benda-benda yang masih bertahan menyimpan sebuah perjalanan panjang: dari perkebunan di Jawa Barat, menuju Paris, lalu menghilang dari catatan sejarah sebelum akhirnya ditemukan kembali di sebuah museum di Jerman.

Kisahnya berawal di perkebunan Parakan-Salak, Jawa Barat. “Prosesnya sebagian dimulai di perkebunan Parakan-Salak, Jawa Barat. Kala itu administrator perkebunan Adriaan Holle, pendahulu dari Gustav Mundt sang direktur perkebunan, mendirikan ansambel gamelan. Para musisi sebenarnya bukanlah seniman, melainkan pekerja dari perkebunan,” tulis Geraldus dalam percakapan elektronik saat berkorespondensi dengan DW sebelum acara berlangsung.

Sekar Yunita dari Yayasan Sagonese eV menimpali kisah di balik benda-benda tersebut. “Dulu, para pekerja perkebunan melepas kesuntukan bekerja dengan main gamelan. Mereka lalu dibawa pemilik perkebunan untuk main di pameran internasional di Paris. Pertunjukan tersebut menggabungkan tarian dengan musik rakyat.”

Dari kebun di Jawa Barat, para pekerja itu dibawa melintasi samudra menuju Eropa. Mereka datang bukan sebagai musisi profesional. Mereka adalah pekerja perkebunan yang memainkan musik untuk mengusir penat dari rutinitas kerja. Namun di Paris, bunyi yang mereka mainkan menjadi bagian dari tontonan dunia., tambah Sekar.

Paris, 1889

Tahun 1889, Paris menjadi panggung besar bagi dunia. Di Champ-de-Mars, di samping Menara Eiffel yang baru berdiri, Exposition Universelle merayakan kemajuan, teknologi, seni, dan kebudayaan dari berbagai penjuru dunia. Pameran Dunia Exposition Universelle 1889 di Paris digelar untuk memperingati 100 tahun (satu abad) Revolusi Prancis dan penyerbuan Penjara Bastille. Pameran raksasa itu digelar dari bulan Mei sampai Oktober 1889.Ikon utamanya: Menara Eiffel dibangun sebagai pintu gerbang utama pameran in. Puluhan negara dan puluhan ribu eksibitor ikut andil dalam pameran yang dihadiri lebih dari 30 juta pengunjung tersebut.

Di tengah perhelatan itu terdapat Java Village alias Kampung Jawa. Di sana, orang-orang Eropa dapat melihat gambaran tentang Jawa melalui arsitektur, pertunjukan, pakaian, tarian, dan musik. Gamelan dari Parakan-Salak menjadi bagian dari pertunjukan tersebut.

Bagi para pengunjung pameran, bunyi gamelan mungkin terdengar asing. Tetapi bagi seorang musisi muda Prancis, Claude Debussy, suara itu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang. “Ia datang ke Paris Expo dan menghampiri Java Village dan di situ dia kemudian nonton para pemain gamelan dari Parakan-Salak ini beraksi. Nada-nada gamelan slendro yang ditampilkan di Paris itu menginspirasi musik-musiknya dia,” ujar Geraldus.

Salah satu jejak pengaruh tersebut dapat didengar dalam

Pagodes

, bagian dari karya

Estampes

. Dengan demikian, perjalanan gamelan itu bukan sekadar perjalanan sebuah benda dari Jawa ke Eropa. Ia juga menjadi perjalanan sebuah bunyi. Bunyi yang masuk ke telinga Debussy, kemudian berkelana ke dalam komposisi musik Barat. Tetapi setelah pameran berakhir, jejak gamelan itu menghilang.

Hilang setelah pesta

Setahun setelah pameran akbar tersebut, tidak banyak yang diketahui mengenai keberadaan gamelan itu. Ia seperti lenyap dari sejarah. Selama lebih dari seabad, tak banyak yang mengetahui bahwa ansambel yang pernah dimainkan di Paris masih berada di Eropa. Banyak kalangan meyakini gamelan itu gamelan Sari Oneng, mungkin oleh sebab itu orang tak mencarinya lagi, tutur Geraldus. “Namun rupanya, selama lebih dari seabad, gamelan Paris tetap tersembunyi di museum Jerman,” ungkap Geraldus.

Titik baliknya terjadi pada 2024. Peneliti Angela López Lara menemukan bahwa gamelan yang dimainkan dalam Pameran Paris 1889 ternyata disimpan oleh MARKK Museum am Rothenbaum – Kulturen und Künste der Welt. Gamelan tersebut, menurut Geraldus, belum pernah dipamerkan atau dibahas dalam publikasi apa pun, meskipun museum itu menyimpan salah satu koleksi etnografi terbesar di Eropa.

Penemuan itu terjadi berkat arsip, tandas Geraldus. Gustav Mundt, yang memiliki gamelan yang digunakan di Paris, diketahui kemudian menyumbangkannya ke museum etnografi di kota kelahirannya.”Representasi instrumen tersebut kemudian dibandingkan dengan objek yang tersimpan di gudang.”

“Jadi barang itu ada di MARKK Museum karena tahun 1891, tahun setelah Paris Expo 1889, didonasikan. Namun tidak ada yang tahu. MARKK Museum sendiri dulu namanya Museum für Völkerkunde, hanya memamerkan gamelan ini pada tahun 1946 bersama barang-barang lain. Tapi setelah itu tidak pernah didisplay lagi,” jelas Geraldus.

Arsip yang berbicara

Mengapa butuh lebih dari satu abad untuk menemukan benda yang ternyata masih ada? Jawabannya mungkin sesederhana perubahan teknologi. “Sumber-sumber arsip itu kan baru didigitasi lima tahun belakangan. Lima tahun belakangan ini peneliti jadi baru aktif dan dapat informasi-informasi ini dengan cepat, kan tinggal masukkan kata kunci,” jelas Geraldus.

Angela López-Lara menelusuri arsip digital dan menemukan petunjuk mengenai Mundt yang mentransfer benda tersebut ke MARKK Museum sekitar 1890. Dari sana, potongan-potongan sejarah mulai bertemu. Arsip menemukan nama Mundt. Nama itu mengarah pada koleksi. Koleksi membawa peneliti ke gudang. Dan di sana, setelah lebih dari seratus tahun, sejarah yang selama ini dianggap hilang ternyata menunggu dalam keadaan nyaris tak berdaya.

Kesalahpahaman mengenai Sari Oneng, menurut Geraldus, mungkin justru membuat pencarian terhadap gamelan yang sebenarnya tidak pernah dilakukan secara serius. ” Sari Oneng ada di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Jadi mungkin karena itu orang tidak mencari lagi gamelan itu, apakah benar-benar yang dari Paris itu gamelan Sari Oneng, dipikirnya. Ternyata baru Angela López-Lara yang melihat, kayaknya secara bentuk morfologi enggak sama antara yang tampil di Paris dengan gamelan Sari Oneng,” ujarnya.

Baca Juga :  Rudy Mas'ud Serap Aspirasi Warga Kutai Timur

Ada pula alasan yang lebih emosional. “Kita semua ya karena kita mungkin juga passionate dengan sejarah kita sendiri dan ingin tahu gamelan itu, apa pengaruh globalnya, jadi kita senang dengan narasi bahwa ada gamelan yang dulu, yakni Sari Oneng ini, yang pernah travel ke luar negeri ke Eropa dan pulang lagi,” papar Geraldus.

Narasi itu memang terasa lebih lengkap. Berangkat. Berkelana. Lalu pulang. Tetapi benda yang sesungguhnya pergi ke Paris ternyata tidak pulang. Ia tertinggal di Eropa, di gudang penyimpanan MARKK Museum.

Dalam laporan riset Angela López-Lara ditulis pada tahun 1946—hanya satu tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, yang dampaknya sangat berat bagi Kota Hamburg, gamelan sempat dipamerkan dalam sebuah pameran berjudul ‘Schattenspiele der Völker’, bersama dengan dua manekin pria yang mengenakan kostum dan topeng Madura, beberapa wayang kulit dan beberapa angklung. Pameran tersebut menampilkan setidaknya 13 instrumen dari gamelan Mundt. Bonang diberi label dengan kode A 2428 (yang raknya saat ini hilang). “Kami belum menemukan bukti adanya pameran atau aktivitas lain yang melibatkan gamelan setelahnya, „ tulis Angela López-Lara. “Namun, beberapa instrumen menunjukkan tanda-tanda restorasi dan intervensi yang tidak biasa, yang mungkin terkait dengan lokakarya yang diadakan pada suatu waktu. katalogisasi, yang tidak diragukan lagi dilakukan pada periode selanjutnya. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin bahwa pada akhir pameran sementara tahun 1946, gamelan tersebut disimpan, dan tetap tersembunyi hingga hari ini,” tulisnya.

Gamelan yang terluka

Kini, gamelan tersebut menghadapi persoalan lain: Bagaimana menyelamatkan tubuhnya yang tersisa. June Lamadjido, kurator MARKK Museum, menjelaskan bahwa kerusakan parah pada koleksi tersebut tidak dapat dilepaskan dari sejarah perang. “Memang rusak sampai segitunya dan masalahnya itu dulu waktu Perang Dunia Kedua museumnya kena bom.”

MARKK menyimpan sekitar 500 ribu benda koleksi. Dalam situasi perang, sebagian benda harus segera dipindahkan dan diamankan, tambahnya. Pemindahan dalam keadaan darurat tidak selalu disertai dokumentasi yang memadai. “Sebagian besar, sekitar 90 persen dari gamelan yang relevan ini kita tahu tempatnya di mana. Tapi 10 persennya kita masih belum terlalu yakin apakah kita tahu posisinya atau enggak,” jelas June.

Barang-barang yang pernah berpindah karena perang, kata dia, tidak selalu tercatat dengan baik. Begitulah sebuah gamelan bisa kehilangan bukan hanya bunyinya, tetapi juga bagian-bagian tubuhnya.

Kala gamelan bertutur sapa dengan piano

Usai lokakarya akademis tentang gamelan Paris yang telah lebih dari seabad tersimpan dalam kesunyian museum, malam di Hamburg berlanjut dengan sebuah perjumpaan musik.

KJRI Hamburg bersama Yayasan Sagonese eV menggelar konser gamelan dan piano. Namun gamelan yang dimainkan malam itu bukanlah gamelan misterius yang pernah dibawa ke Paris pada 1889. Kondisinya terlalu rapuh untuk dimainkan.Sebagai gantinya, kelompok gamelan Jawa Margi Budoyo memainkan seperangkat gamelan lain. “Sulit sekali mencari gamelan Sunda, sementara gamelan yang dimainkan di Paris seabad lalu kan rusak. Jadi oleh sebab itu, yang dimainkan di konser malam ini gamelan Jawa,” ujar Geraldus Martimbang.

Pilihan itu sekilas tampak seperti sebuah ironi.Gamelan yang menjadi pusat perhatian malam itu adalah gamelan Sunda yang pernah mengalun di Paris. Namun ketika tiba waktunya musik benar-benar dimainkan, justru gamelan Jawa yang mengambil tempat.

Margi Budoyo, kelompok gamelan Jawa di bawah naungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hamburg, mempertemukan tradisi Jawa dengan ruang kebudayaan Eropa. Sebagian anggotanya adalah orang Jerman. Sejak 2002, kelompok yang dipimpin Maharsi itu aktif memperkenalkan seni budaya Jawa di Jerman melalui gamelan, wayang kulit, dan tari, serta tampil dalam berbagai festival dan acara kebudayaan di Jerman dan Eropa. Malam itu, lagu yang dimainkan di antaranya Ketawang Puspowarno slendro 6 Ketawang Ilir-Ilir dan Srepeg Banyumasan.

Malam itu, bunyi gamelan tidak berdiri sendiri.Ia berhadapan dengan piano. Para pemain Margi Budoyo berkolaborasi dengan pianis dalam sebuah aransemen baru karya komposer internasional asal Indonesia, Marisa Sharon Hartanto. Marisa menyelesaikan studi Master Komposisi di Royal Holloway University of London. Karya-karyanya telah dipentaskan oleh berbagai ansambel internasional, termasuk BBC Concert Orchestra dan London Symphony Orchestra. Aransemen baru yang dimainkan pemusik gamelan yang berkolaborasi dengan pianis berjudul: “Waktu yang Rindu Pulang.”

Di belakang gamelan, pianis internasional Calvin Abdiel mengambil tempat. Calvin dikenal atas virtuositas dan musikalitasnya yang kuat. Ia merupakan finalis Sydney International Piano Competition 2021 serta peraih George Frederick Boyle Third Prize dan Nancy Weir Best Australian Pianist Prize. Memulai debut orkestra sejak usia remaja, ia telah tampil bersama berbagai ansambel di Eropa, Asia, dan Australia. Gelar Master of Arts diselesaikannya di Hochschule für Musik Hanns Eisler Berlin.

Maka malam itu, dua dunia bunyi bertemu.Gamelan dan piano.Tradisi dan tafsir baru. Jawa dan Eropa. Bagi sebagian penonton, perjumpaan itu mula-mula terasa ganjil. “Dimainkan dengan piano awalnya aku skeptis, tapi ternyata bagus,” ujar salah seorang penonton Jerman.”Ada komposisi yang baru yang menggabungkan keduanya, menarik sekali,” timpal penonton lainnya. Birgit Steffan, pimpinan Rumah Budaya Indonesia Berlin, menangkap perjumpaan itu dalam kalimat yang sederhana, tetapi luas maknanya: “Betapa musik gamelan telah melahirkan keragaman musik yang begitu kaya.”

Calvin juga memainkan Pagodes, salah satu karya Claude Debussy. Di titik inilah konser malam itu seolah kembali kepada kisah yang dibicarakan sepanjang hari. Lebih dari seabad sebelumnya, di Paris, seorang komponis muda Prancis pernah mendengarkan gamelan dari Jawa. Ia mendengar bunyi slendro yang asing bagi telinganya, bunyi yang datang dari sebuah dunia yang jauh dan berbeda. Malam itu, di Hamburg, Pagodes kembali dimainkan.

Ketika jemari Calvin menyentuh tuts piano, nada-nada Debussy memenuhi langit-langit aula terbuka museum. Musik seakan bergerak melampaui batas waktu: dari Paris 1889 menuju Hamburg 2026, dari bilah-bilah gamelan yang kini rapuh menuju tuts piano yang masih menyala. Beberapa penonton tampak menitikkan air mata.

Sekar Yunita dari Sagonesse eV termasuk di antaranya. “Begitu indah karya Debussy dan Calvin memainkannya dengan sangat baik. Saya menangis mendengarkan karena teringat bagaimana nasib para pekerja perkebunan teh dulu yang memainkan gamelan tersebut di negara-negara Barat seperti Prancis,” ujarnya sambil mengusap mata.

Di balik kemilau sejarah tentang Exposition Universelle dan Menara Eiffel, Sekar teringat pada orang-orang yang memainkan gamelan itu. Mereka bukan komponis terkenal. Bukan pula musisi istana yang datang membawa nama besar. Mereka adalah pekerja perkebunan teh. Orang-orang yang, seperti dituturkan sebelumnya, memainkan gamelan untuk melepas penat dari pekerjaan, lalu dibawa jauh dari Jawa untuk tampil di hadapan publik Eropa. “Ada yang mati kedinginan karena pakai pakaian Jawa, dan tak bisa beradaptasi dengan cuaca Barat,” kata Sekar.

Kalimat itu mengubah cara memandang musik yang baru saja selesai dimainkan. Pagodes bukan lagi sekadar karya Debussy. Ia menjadi jejak dari sebuah perjumpaan yang panjang dan tidak selalu setara: Antara Jawa dan Eropa,
antara pekerja perkebunan teh dan panggung dunia,
antara bunyi yang dibawa ke Paris dan benda yang akhirnya terlantar di sebuah gudang museum. Gamelan itu kini tak dapat dimainkan. Sebagian perangkatnya rusak. Sebagian lainnya masih dicari keberadaannya. Namun bunyinya tidak benar-benar mati. Ia telah menjelma menjadi komposisi dan ingatan. Menjadi Pagodes.

Dan pada malam September 2026 di Hamburg, lebih dari seratus tahun setelah para pekerja perkebunan Parakan-Salak memainkan gamelan di Paris, bunyi itu kembali menemukan jalan pulang—bukan melalui gamelan yang sama, melainkan melalui denting piano.