5 Oktober 2026

Mel Ahyar Archipelago tuangkan pesona budaya Nias di Fashion Nation Senayan City ke-20

Gelaran mode tahunan Senayan City Fashion Nation edisi ke-20 kembali menjadi wadah bagi para perancang busana lokal untuk memamerkan kekayaan budaya Nusantara.

Membawa nilai tradisional, jenama mode Mel Ahyar Archipelago sukses memukau pencinta fesyen dengan menghadirkan deretan busana eksklusif yang mengangkat keindahan alam serta nilai historis masa lampau dari Pulau Nias.

Daya tarik unik kepulauan tanpa wastra

Koleksi istimewa yang secara resmi diberi tajuk “Tanö Niha” atau bermakna Tanah Nias ini lahir dari proses pencarian jati diri budaya yang sangat panjang dan terstruktur.

Bagi sang desainer, Mel Ahyar, setiap lembar pakaian yang dilahirkan oleh jenama ini selalu menyimpan narasi kuat di baliknya, sehingga menuntut dilakukannya riset lapangan yang mendalam sebelum mengeksekusi ide menjadi busana siap pakai.

Dalam proses pengumpulan data ke Sumatera Utara tersebut, terdapat sebuah temuan spesifik mengenai tradisi tekstil masyarakat kepulauan itu yang membedakannya dari mayoritas daerah lain di Indonesia.

“Yang menarik buat saya di Nias, itu enggak ada wastranya, tapi cuma ada bordiran aja,” kata Mel Ahyar dalam Press Conference Senayan City Fashion Nation 20th Edition, di Senayan City, Jakarta Pusat, Jumat (18/9/2026).

Keputusan matang untuk mengangkat wilayah di pesisir barat Sumatera tersebut juga tidak terlepas dari kekagumannya terhadap pesona pariwisata bahari lokal yang telah mendunia.

“Nias cukup menarik buat saya kulik karena daerah tersebut punya potensinya luar biasa alamnya. Dia seperti pulau dewanya surfer,” tambahnya.

Menerjemahkan jejak sejarah dan relief batu

Guna mendapatkan nyawa otentik dari rancangan busananya, sang perancang rela terjun langsung mengamati denyut kehidupan masyarakat adat yang hingga kini masih konsisten memegang teguh warisan leluhurnya.

Baca Juga :  Babinsa Koramil Kepohbaru Bojonegoro dan Warga Gotong Royong bersihkan Reruntuhan Gedung SDN Pejok

“Pada waktu saya ke Nias untuk ambil inspirasi, saya menemukan banyak kampung adat yang menarik dan masih sangat tradisional, bahkan menjalankan kesehariannya masih tradisional banget,” ungkapnya.

Eksplorasi visual tersebut rupanya tidak berhenti pada interaksi keseharian warga. Mel Ahyar turut menelusuri peninggalan artefak kuno yang secara visual merekam jejak peradaban.

“Saya menemukan ada relief-relief batu yang bagus banget dan itu masih raw dari jaman dulu. Leluhurnya bercerita dengan kisah lewat relief batu, sebelum ada sandi dan bahasa,” jelas dia.

Sebuah penemuan epik di kediaman tokoh adat setempat turut memberikan pencerahan mengenai sejarah awal interaksi masyarakat lokal dengan bangsa asing pada era kolonialisme.

“Waktu berkunjung ke rumah rajanya, sekarang lagi di-conservatory, ada satu ukiran kapal laut. Semua orang-orang itu warnanya hitam tapi ada satu orang gitu yang warnanya pink berdiri tegak di tengah kapal itu,” terangnya.

Simbolisasi warna pada ukiran kuno itu ternyata menyimpan narasi yang membekas kuat.

“Ternyata itu menandakan kalau yang hitam itu pribumi dan putih itu kompeni, jadi sangat original dan raw sekali cerita di balik setiap reliefnya,” sebut Mel Ahyar.

Transformasi anyaman tradisional khas Nias dalam busana

Selain menghidupkan kembali cerita puitis dari relief batu ke dalam detail sulaman pakaian, sentuhan akhir pada koleksi ini juga mengadaptasi keterampilan tangan khas penduduk setempat.

Jenama ini melakukan inovasi material yang berani dengan menyulap teknik menganyam khas Nias dari daun pandan ke bahan organza Sutra.

“Saya juga membawa anyaman khas Nias di koleksi ini. Biasanya mereka menggunakan daun pandan, tapi kali ini saya terjemahkan ke organza sutra,” pungkasnya.