12 September 2026

6 cara ikatan dengan hewan peliharaan mendukung kesehatan mental menurut psikologi



Ada hubungan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata antara manusia dan hewan peliharaan.

Seekor anjing yang menyambut kita ketika pulang. Seekor kucing yang tidur di samping kita ketika hari terasa berat. Burung yang terus berkicau pada pagi hari. Atau bahkan kelinci yang hanya duduk tenang di dekat kita.

Bagi sebagian orang, hewan peliharaan bukan sekadar “hewan yang tinggal di rumah”. Mereka menjadi bagian dari kehidupan emosional: teman, sumber kenyamanan, rutinitas, bahkan anggota keluarga.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), dalam psikologi, hubungan semacam ini termasuk dalam kajian human-animal interaction (HAI) dan human-animal bond, yaitu bagaimana interaksi dan ikatan antara manusia dan hewan dapat berhubungan dengan kondisi psikologis maupun kesejahteraan seseorang.

Namun, ada satu hal penting yang perlu ditegaskan sejak awal: hewan peliharaan bukan obat untuk gangguan mental. Bukti ilmiah mengenai manfaat kepemilikan hewan terhadap kesehatan mental masih beragam. Sebuah systematic review terhadap 54 penelitian, misalnya, menemukan hasil yang positif, campuran, tidak berpengaruh, hingga negatif.

Jadi, cara yang lebih tepat untuk melihatnya adalah bahwa hubungan dengan hewan dapat menjadi salah satu sumber dukungan yang membantu seseorang menjalani proses pemulihan—terutama jika dipadukan dengan dukungan sosial, perubahan gaya hidup, dan bila diperlukan, bantuan profesional.

Lalu, bagaimana sebenarnya ikatan tersebut dapat membantu?

1. Hewan peliharaan dapat memberikan rasa aman dan dukungan emosional

Salah satu pengalaman paling kuat dalam hubungan manusia dengan hewan adalah perasaan bahwa kita tidak sendirian.

Ketika seseorang mengalami stres, kesedihan, kecemasan, atau tekanan hidup, ia mungkin tidak selalu ingin berbicara dengan manusia lain. Berbicara kepada orang lain terkadang membutuhkan keberanian: kita mungkin takut dihakimi, disalahpahami, atau dianggap berlebihan.

Hubungan dengan hewan memiliki karakter yang berbeda.

Kita bisa duduk di samping hewan peliharaan tanpa perlu menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Kita bisa menangis di dekatnya.

Kita bisa mengelus bulunya.

Kita bisa berbicara meskipun tidak mendapatkan respons verbal.

Secara psikologis, pengalaman tersebut dapat memberikan emotional companionship—perasaan ditemani dan memiliki makhluk lain yang hadir dalam kehidupan kita.

Systematic review terhadap orang yang hidup dengan masalah kesehatan mental menemukan bahwa banyak peserta menggambarkan hewan peliharaan sebagai sumber kenyamanan, hubungan emosional, dan dukungan terutama ketika menghadapi masa sulit atau krisis.

Yang menarik adalah sifat hubungan tersebut sering dianggap lebih sederhana daripada hubungan sosial manusia.

Hewan tidak bertanya:

“Kenapa kamu masih seperti ini?”

Mereka tidak meminta kita menjelaskan mengapa hari ini kita tidak produktif.

Mereka juga tidak menilai apakah emosi kita masuk akal atau tidak.

Tentu saja kita tidak boleh menganggap hewan benar-benar memahami seluruh emosi manusia seperti manusia lain. Namun, perasaan diterima dan ditemani yang muncul dari interaksi tersebut dapat memiliki arti psikologis yang nyata bagi pemiliknya.

Dalam konteks pemulihan, rasa aman semacam ini bisa menjadi “ruang emosional” tempat seseorang berhenti sejenak dari tekanan.

2. Interaksi dengan hewan dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan ketenangan

Pernahkah Anda merasa lebih tenang setelah mengelus anjing atau kucing?

Pengalaman tersebut bukan hanya sesuatu yang bersifat emosional. Ada penelitian yang mencoba memahami mekanisme fisiologis di balik interaksi manusia-hewan.

Sebuah systematic review mengenai interaksi manusia dan anjing yang mencakup 129 penelitian menemukan sejumlah temuan yang konsisten dengan kemungkinan manfaat terhadap sistem stres tubuh, termasuk peningkatan heart rate variability (HRV) dan oksitosin serta penurunan kortisol dalam sejumlah konteks. Para peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan relaksasi, ikatan sosial, dan kemungkinan penurunan stres. Namun, mereka juga menekankan bahwa hasil penelitian berbeda-beda dan mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.

Secara sederhana, interaksi yang menenangkan dengan hewan dapat membantu seseorang beralih dari kondisi psikologis yang sangat tegang menuju keadaan yang lebih tenang.

Bayangkan seseorang baru saja mengalami hari yang penuh tekanan.

Ia pulang.

Anjingnya berlari menyambut.

Ia duduk.

Anjing tersebut berada di sampingnya.

Tidak ada tuntutan pekerjaan.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada rapat.

Tidak ada kewajiban untuk menjelaskan apa pun.

Selama beberapa menit, perhatian seseorang dapat berpindah dari pikiran tentang masalah kepada pengalaman sensorik yang sedang terjadi: suara napas hewan, kehangatan tubuhnya, tekstur bulu, gerakannya, atau sekadar keberadaannya.

Ini dapat berfungsi seperti jeda psikologis.

Menariknya, penelitian yang lebih baru pada 188 pemilik anjing dan kucing menemukan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan berkaitan dengan lebih banyak emosi positif dan lebih sedikit emosi negatif pada saat interaksi tersebut. Namun penelitian itu tidak menemukan bukti bahwa interaksi dengan hewan secara umum selalu “menyangga” dampak stres, sehingga efeknya tampaknya lebih kompleks daripada sekadar mengatakan bahwa hewan otomatis menghilangkan stres.

Dengan kata lain, manfaatnya mungkin bukan “hewan menghapus stres”, melainkan interaksi tertentu dapat membantu menciptakan momen emosional yang lebih positif dan menenangkan.

3. Hewan peliharaan dapat membantu membangun rutinitas ketika hidup terasa kacau

Salah satu tantangan dalam masalah kesehatan mental adalah hilangnya struktur kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang mengalami depresi atau kelelahan psikologis, aktivitas sederhana bisa terasa sangat berat.

Bangun dari tempat tidur menjadi sulit.

Mandi terasa berat.

Makan tidak teratur.

Keluar rumah tidak menarik.

Hari dan malam mulai terasa sama.

Dalam kondisi seperti itu, merawat hewan dapat menciptakan rutinitas eksternal.

Anjing perlu diberi makan.

Kucing perlu dirawat.

Akuarium perlu diperhatikan.

Burung membutuhkan makanan dan kebersihan kandang.

Hewan memiliki kebutuhan yang tidak selalu menunggu sampai kita merasa termotivasi.

Hal ini dapat memberikan struktur sederhana:

bangun → memberi makan → membersihkan → berinteraksi → melakukan aktivitas → tidur.

Secara psikologis, struktur tersebut bisa menjadi penting karena pemulihan kesehatan mental sering kali tidak hanya berkaitan dengan “merasa lebih baik”, tetapi juga dengan kembali melakukan aktivitas yang bermakna.

Dalam psikologi klinis, salah satu pendekatan yang relevan adalah behavioral activation. Prinsip sederhananya adalah bahwa kita tidak selalu harus menunggu motivasi muncul sebelum melakukan aktivitas. Justru, melakukan aktivitas yang bermakna secara bertahap dapat membantu mengubah pola emosi dan perilaku.

Hewan peliharaan tentu bukan bentuk terapi behavioral activation itu sendiri.

Tetapi kebutuhan mereka dapat menjadi dorongan alami untuk mempertahankan aktivitas dan rutinitas.

Misalnya, seseorang mungkin tidak memiliki energi untuk berjalan-jalan demi dirinya sendiri.

Namun ketika anjingnya membutuhkan jalan pagi, alasan tersebut terasa berbeda:

“Saya harus keluar karena dia membutuhkan saya.”

Aktivitas yang awalnya dilakukan untuk hewan kemudian dapat memberikan manfaat bagi manusia.

Sebuah umbrella review tahun 2026 pada orang dewasa lanjut usia juga menemukan manfaat yang berkaitan dengan aktivitas fisik pada pemilik anjing, sementara intervensi dengan anjing dapat mendukung interaksi sosial dan mengurangi kesepian dalam beberapa konteks.

4. Ikatan dengan hewan dapat mengurangi rasa kesepian dan keterasingan

Kesepian bukan sekadar “tidak punya teman”.

Seseorang bisa berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa sangat sendirian.

Kesepian berkaitan dengan pengalaman subjektif bahwa kita tidak memiliki hubungan yang cukup bermakna atau tidak merasa benar-benar terhubung dengan orang lain.

Di sinilah hewan peliharaan dapat memiliki peran yang menarik.

Kehadiran hewan menciptakan bentuk companionship yang berlangsung secara rutin.

Ada makhluk hidup lain di rumah.

Ada yang perlu dirawat.

Ada yang menyambut ketika kita pulang.

Ada interaksi yang terjadi setiap hari.

Systematic review terhadap 24 penelitian mengenai kepemilikan hewan, kesepian, dan isolasi sosial menemukan bahwa sebagian penelitian pada orang dewasa menunjukkan hubungan antara kepemilikan hewan dan tingkat isolasi sosial yang lebih rendah. Setelah pandemi COVID-19, sejumlah penelitian juga menunjukkan hubungan dengan kesepian yang lebih rendah, meskipun keseluruhan bukti belum konsisten.

Baca Juga :  Babinsa Koramil Padangan Bojonegoro dan Warga Bangun Tanggul Darurat

Ada mekanisme lain yang juga menarik.

Hewan, khususnya anjing, dapat menjadi jembatan sosial.

Seseorang yang sulit memulai percakapan dengan orang asing mungkin lebih mudah mengatakan:

“Wah, lucu sekali anjingnya.”

atau:

“Anjingnya umur berapa?”

Dengan demikian, hewan dapat menjadi titik awal interaksi sosial.

Bukan berarti semua pemilik hewan otomatis menjadi lebih sosial. Namun dalam situasi tertentu, hewan dapat membuka peluang terjadinya hubungan dengan manusia lain.

Hal ini sangat penting karena pemulihan psikologis sering kali tidak hanya membutuhkan hubungan dengan hewan, tetapi juga jaringan hubungan manusia yang sehat.

5. Merawat hewan dapat memberikan rasa dibutuhkan dan memiliki tujuan

Ada satu kebutuhan psikologis yang sering kurang dibicarakan: merasa bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi sesuatu atau seseorang.

Ketika seseorang sedang mengalami masa sulit, ia mungkin mulai berpikir:

“Saya tidak berguna.”

“Tidak ada yang membutuhkan saya.”

“Apa gunanya saya melakukan apa pun?”

Hewan peliharaan dapat memberikan pengalaman yang sangat sederhana tetapi kuat:

“Ada makhluk hidup yang bergantung pada saya.”

Tentu saja, ini tidak berarti seseorang harus memiliki hewan agar hidupnya bermakna.

Namun aktivitas merawat makhluk hidup dapat memberikan pengalaman purpose, responsibility, dan reciprocity.

Kita memberikan makanan.

Kita memberikan perhatian.

Kita menjaga kesehatan mereka.

Sebagai gantinya, kita menerima companionship, interaksi, dan kehadiran.

Hubungan tersebut memiliki sifat timbal balik.

Dalam penelitian kualitatif mengenai orang dengan masalah kesehatan mental, hewan peliharaan digambarkan dapat membantu seseorang menjalankan berbagai “pekerjaan” psikologis sehari-hari, termasuk memberikan rutinitas, rasa terhubung, kenyamanan, dan dukungan pada masa krisis.

Inilah salah satu alasan mengapa hubungan dengan hewan dapat terasa sangat berarti bagi seseorang yang sedang berjuang secara psikologis.

Bukan karena hewan memberikan jawaban terhadap semua masalah.

Tetapi karena hubungan tersebut dapat mengatakan sesuatu yang sederhana:

“Kamu masih punya sesuatu untuk dirawat. Kamu masih terhubung dengan kehidupan.”

6. Hubungan dengan hewan dapat menjadi sumber pengalaman positif yang membantu proses pemulihan

Kesehatan mental bukan hanya tentang menghilangkan gejala negatif.

Pemulihan juga berkaitan dengan munculnya kembali pengalaman positif:

merasa senang,

merasa terhubung,

merasa tenang,

memiliki harapan,

menikmati aktivitas,

merasa memiliki tujuan,

dan mengalami momen yang bermakna.

Hewan peliharaan dapat menciptakan banyak momen kecil semacam itu.

Seekor kucing yang tiba-tiba tidur di pangkuan.

Anjing yang mengajak bermain.

Burung yang merespons suara kita.

Kelinci yang mendekat ketika diberi makanan.

Momen tersebut mungkin terlihat sepele.

Tetapi dalam kehidupan seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis, momen kecil yang positif tetap memiliki nilai.

Penelitian terbaru mengenai interaksi sehari-hari dengan anjing dan kucing menemukan bahwa interaksi dengan hewan berkaitan dengan peningkatan affect positif dan penurunan affect negatif pada saat tertentu.

Ini dapat dipahami melalui konsep sederhana:

Pemulihan psikologis sering kali tidak terjadi melalui satu perubahan besar, tetapi melalui akumulasi banyak pengalaman kecil yang aman, positif, dan bermakna.

Hewan peliharaan dapat menjadi salah satu sumber pengalaman tersebut.

Namun sekali lagi, hubungan ini tidak selalu positif.

Merawat hewan juga membutuhkan biaya, waktu, tenaga, dan tanggung jawab. Ketika hewan sakit atau meninggal, pemilik dapat mengalami kesedihan yang sangat dalam. Systematic review mengenai hubungan hewan dengan kesehatan mental juga menemukan dampak positif, negatif, dan netral.

Jadi, psikologi tidak seharusnya menggambarkan hewan sebagai “obat ajaib”.

Mengapa ikatan terasa begitu kuat?

Ada alasan mengapa kehilangan hewan peliharaan dapat terasa seperti kehilangan anggota keluarga.

Hubungan manusia-hewan dapat melibatkan attachment, yaitu ikatan emosional yang membuat keberadaan individu atau makhluk tertentu menjadi penting bagi rasa aman dan kesejahteraan seseorang.

Karena itu, kualitas hubungan mungkin lebih penting daripada sekadar status “memiliki hewan”.

Seseorang dapat memiliki hewan tetapi tidak memiliki ikatan emosional yang kuat.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki ikatan yang sangat mendalam dengan hewannya.

Menariknya, systematic review tahun 2025 yang mencakup 116 penelitian mengenai attachment terhadap hewan menemukan hasil yang sangat beragam: sebagian penelitian menghubungkan attachment yang lebih tinggi dengan kesehatan mental yang lebih baik, sebagian dengan hasil yang lebih buruk, sebagian menemukan hasil campuran, dan banyak lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan.

Ini memberi kita pelajaran penting:

Bukan sekadar “seberapa sayang kita kepada hewan” yang menentukan kesehatan mental. Konteks hubungan tersebut juga penting.

Jadi, apakah hewan peliharaan benar-benar dapat “menyembuhkan” kesehatan mental?

Jawabannya perlu hati-hati: tidak dalam arti medis bahwa hewan dapat menggantikan terapi atau pengobatan.

Bukti ilmiah mengenai hubungan antara kepemilikan hewan dan kesehatan mental masih tidak konsisten. Review terbaru mengenai attachment terhadap hewan juga menunjukkan hasil yang sangat heterogen.

Tetapi ada cukup banyak bukti dan pengalaman psikologis yang menunjukkan bahwa hubungan dengan hewan dapat menjadi sumber dukungan yang berarti.

Terutama melalui:

dukungan emosional,

pengurangan atau pengelolaan stres,

rutinitas sehari-hari,

rasa keterhubungan,

perasaan dibutuhkan dan memiliki tujuan,

pengalaman positif dan menyenangkan.

Bahkan penelitian tentang animal-assisted interventions menunjukkan potensi manfaat dalam konteks tertentu. Meta-analisis tahun 2026 pada orang dewasa lanjut usia menemukan bahwa intervensi berbantuan hewan memiliki efek yang signifikan terhadap gejala depresi dan fungsi kognitif, tetapi tidak menemukan efek signifikan yang sama terhadap kecemasan atau kesepian; tingkat kepastian buktinya juga masih rendah hingga sangat rendah untuk beberapa hasil.

Artinya, bidang ini menjanjikan, tetapi ilmu pengetahuan masih terus berkembang.

Hewan peliharaan bukan pengganti manusia—dan bukan pengganti profesional

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jika seseorang mengalami depresi berat, gangguan kecemasan, trauma, pikiran untuk menyakiti diri, atau masalah psikologis yang mengganggu fungsi sehari-hari, keberadaan hewan peliharaan sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber dukungan, bukan satu-satunya.

Hewan dapat menemani kita.

Tetapi mereka tidak dapat memberikan diagnosis.

Mereka tidak dapat melakukan psikoterapi.

Mereka tidak dapat menangani keadaan darurat.

Dan mereka tidak seharusnya dibebani tanggung jawab untuk “menyembuhkan” pemiliknya.

Pendekatan yang lebih sehat adalah melihat hubungan manusia-hewan sebagai bagian dari ekosistem dukungan yang lebih luas:

hewan peliharaan + keluarga/teman + aktivitas fisik + tidur dan rutinitas + lingkungan yang aman + bantuan profesional ketika diperlukan.

Dengan perspektif ini, hewan tidak perlu menjadi “terapis”.

Mereka cukup menjadi apa yang memang mereka bisa menjadi:

teman hidup yang hadir.

Penutup: Kadang, penyembuhan dimulai dari sebuah kehadiran sederhana

Ada sesuatu yang unik dari hubungan manusia dengan hewan.

Kita tidak selalu membutuhkan kata-kata.

Kadang-kadang kita hanya membutuhkan kehadiran.

Seekor anjing yang duduk di samping kita.

Seekor kucing yang tidur di kaki kita.

Seekor burung yang menyambut pagi.

Seekor kelinci yang menunggu makanan.

Mereka mungkin tidak memahami seluruh masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi interaksi dengan mereka dapat menciptakan momen ketika kita merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih terhubung, atau sedikit lebih mampu melewati hari.

Dan dalam proses pemulihan kesehatan mental, “sedikit lebih baik” tetap berarti sesuatu.

Psikologi belum mengatakan bahwa hewan peliharaan adalah obat untuk semua masalah mental. Bukti penelitian justru meminta kita untuk lebih berhati-hati dan melihat konteks setiap hubungan. Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa interaksi manusia-hewan dapat memiliki dimensi emosional, sosial, perilaku, dan fisiologis yang berpotensi mendukung kesejahteraan.

Pada akhirnya, mungkin kekuatan terbesar hubungan tersebut bukan karena hewan mampu menyelesaikan masalah kita.

Melainkan karena, di tengah hari-hari ketika hidup terasa berat, mereka memberi kita alasan untuk tetap hadir di dalamnya.***