16 April 2026

Apakah Cum Laude Masih Jadi Kunci Lulus Seleksi Kerja?

Ragamnusantara.id, – Media sosial X belum lama ini ramai membahas satu topik yang cukup relatable bagi para fresh graduate, yakni seberapa penting gelar cum laude saat mencari kerja.

Perbincangan ini dipicu oleh unggahan dari pemilik akun @ta******** yang menulis pada Senin (7/7/2025), “Dampak dari gak cumlaude itu apa ya? Jawab realistis aja jangan pake kalimat penenang”.

Pertanyaan ini langsung dibanjiri berbagai respons dari warganet, baik yang menilai cum laude tidak terlalu berpengaruh di dunia kerja, hingga yang menyebut gelar tersebut bisa membuka pintu lebih mudah ke jalur seleksi tertentu.

Cumlaude mah jujur gak dipake di dunia kerja. Orang liat lu skill-nya aja,” tulis pemilik akun X @ce*a** menanggapi.

Namun, ada pula yang melihat dari sisi peluang kerja di sektor pemerintahan.

“Gabisa daftar CPNS jalur lulusan terbaik, padahal pesaingnya lebih sedikit,” timpal akun lain.

Lalu, apa pandangan pakar soal seberapa penting cum laude dalam dunia kerja?

Pengamat pendidikan: Tanggapan pakar terkait pentingnya gelar cum laude

Pengamat pendidikan, Ina Liem, menilai tidak mendapatkan gelar cum laude bukan akhir segalanya.

Menurutnya, masyarakat cenderung terlalu mengagungkan nilai akademik, seolah IPK adalah satu-satunya tiket menuju kesuksesan.

Menurut Ina, dunia kerja lebih memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu dibandingkan prestasi akademik.

“Di dunia kerja, prestasi akademik bukan yang utama dicari, melainkan kapasitas adaptasi, ketangguhan, problem solving, komunikasi, dan kemauan belajar,” ujar Ina saat dihubungi, Selasa (8/7/2025).

Ina pun mengungkap, di Indonesia, gelar cum laude terlalu mudah didapatkan sehingga justru kehilangan nilai eksklusifitasnya.

Ia menyebut, inflasi prestasi akademik ini malah bisa menurunkan kredibilitas gelar itu sendiri.

“Ketika semua orang bisa cum laude, maka gelar itu kehilangan makna sebagai pembeda,” ujarnya.

Baca Juga :  Kapolres William Tanasale Pastikan Aksi Damai Mahasiswa di Tuban Berjalan Lancar

Bahkan dari sisi psikologis, Ina menyebut banyak lulusan cum laude justru masuk dalam tipe “The Idealist”.

“Tipe yang cocok di dunia akademik, riset, atau menjadi dosen. Namun profil ini seringkali kurang fleksibel atau terlalu kaku untuk dinamika dan tuntutan dunia kerja, terutama dalam kerja sektor privat yang serba cepat dan penuh kompromi,” jelasnya.

Cum laude masih menjadi saringan awal rekrutmen kerja

Menilik dunia rekrutmen tenaga kerja, Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, Ria Novita, mengatakan persyaratan akademik menjadi salah satu ketentuan perusahaan.

Ia memberikan contoh, umumnya perusahaan memberikan syarat “minimal lulusan sarjana S-1 atau diploma, jurusan tertentu, dan dengan IPK tertentu”.

“Perusahaan dengan tingkat kompetisi perekrutan yang tinggi terutama untuk level fresh graduates, biasanya memiliki target untuk merekrut calon karyawan dengan IPK tinggi,” terang Ria saat dihubungi, Selasa (8/7/2025).

Ia menjelaskan hal itu disebabkan karena IPK tinggi dianggap sebagai salah satu acuan kualitas dari calon karyawan,

Namun, ia juga menegaskan adanya faktor-faktor lain yang banyak menjadi pertimbangan perusahaan.

Walaupun begitu, banyak perusahaan yang melakukan penjaringan awal dengan memperhatikan persyaratan IPK tersebut.

“Dengan adanya persyaratan semacam ini, tentu saja calon karyawan yang punya IPK lebih tinggi di atas rata-rata (cum laude), memiliki keunggulan dalam kesempatan berkarir,” ujar dia.

Menurut Ira, lulusan cum laude tersebut masuk ke dalam kelompok dengan potensi tinggi dalam proses awal.

Dengan begitu, mereka mendapatkan prioritas dalam hal wawancara kerja atau dalam tes di tahap awal.

“Dalam prakteknya, penjaringan calon karyawan dengan sistem seperti ini cukup efektif dan memberikan hasil yang cukup konsisten secara kualitas di berbagai perusahaan,” imbuh dia.(red/source)