Bojonegoro – Kabupaten Bojonegoro meraih penghargaan dari Gubernur Provinsi Jawa Timur sebagai kabupaten dengan capaian terbaik nomor 3 se-Provinsi Jawa Timur terkait program intervensi spesifik stunting pada 2023. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Penerima penghargaan adalah Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, yang mewakili Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah, dalam acara tersebut yang berlangsung di Surabaya.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, Ani Pujiningrum, prevalensi stunting di wilayah tersebut mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2018 hingga 2023. Selama enam tahun, angka prevalensi stunting turun sebesar 6,31 persen.
Pada tahun 2018, prevalensi stunting mencapai 8,76 persen dan terus menurun menjadi 7,45 persen pada tahun 2019. Pada tahun 2020, angka tersebut kembali menurun menjadi 6,84 persen, dan pada tahun 2021, prevalensi stunting turun lagi menjadi 5,71 persen. Pada tahun 2022, penurunan angka stunting sangat drastis, mencapai 2,99 persen, dan pada tahun 2023 (semester I), angka stunting terbaru adalah 2,45 persen.
Kepala Dinas Kesehatan juga menjelaskan bahwa keberhasilan penurunan angka stunting ini berkat penerapan kerangka konseptual dalam intervensi yang terintegrasi. Terdapat lima pilar dalam percepatan pencegahan stunting, antara lain: komitmen dan visi kepemimpinan, kampanye nasional dan perubahan perilaku, konvergensi program pusat, daerah, dan desa, ketahanan pangan dan gizi, serta pemantauan dan evaluasi.
Pemkab Bojonegoro telah melakukan dua jenis intervensi untuk mencapai hasil ini. Pertama, melalui pemenuhan gizi spesifik seperti pemberian makanan tambahan (PMT) untuk ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) dan balita gizi kurang, tablet tambah darah (TTD) untuk ibu hamil dan remaja putri, pemberian ASI eksklusif dan MPASI, dan lainnya. Kedua, pemenuhan gizi sensitif, seperti akses air bersih dan sanitasi, bantuan pangan non tunai, PKH, pekarangan pangan lestari (P2L), JKN, dan lainnya.
Intervensi ini telah berhasil meningkatkan konsumsi gizi, pola asuh, pelayanan kesehatan, dan kesehatan lingkungan di Kabupaten Bojonegoro, menciptakan kondisi yang lebih baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di wilayah tersebut. (sr/rn/lis)

More Stories
Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni: Fenomena Janda Muda Tak Bisa Diabaikan
Pelari Terjatuh di Alun-Alun Kebumen, Diduga Tertabrak Mobil Mainan
Angin Kencang Robohkan Dapur Program MBG di Kedungadem, Bojonegoro