19 Oktober 2026

Lagu 1910 Iwan Fals jadi pengingat tragedi Bintaro, ini sejarahnya

Lagu 1910 yang dinyanyikan Iwan Fals bukan sekadar karya musik yang merekam kesedihan. Lagu ini menjadi pengingat atas salah satu tragedi transportasi paling memilukan dalam sejarah Indonesia, yakni kecelakaan dua kereta api yang terjadi di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, pada 19 Oktober 1987.

Melalui lagu tersebut, Iwan Fals mengabadikan peristiwa yang merenggut banyak nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Tragedi itu juga menjadi bagian penting dari ingatan publik tentang keselamatan perjalanan kereta api di Indonesia.

Judul 1910 merujuk pada tanggal kejadian, yakni 19 Oktober 1987. Angka tersebut menjadi penanda sebuah peristiwa yang jauh melampaui kabar kecelakaan biasa: ada kehidupan yang terhenti, keluarga yang kehilangan orang tercinta, serta luka yang membekas selama bertahun-tahun.

Sebagai musisi yang dikenal kerap mengangkat realitas sosial melalui karya-karyanya, Iwan Fals menghadirkan tragedi tersebut dalam bentuk lagu yang mengajak pendengar untuk kembali mengingat para korban dan memahami besarnya dampak sebuah kecelakaan transportasi.

Tragedi Bintaro, Tabrakan Dua Kereta pada Senin Pagi

Tragedi Bintaro terjadi pada Senin, 19 Oktober 1987, di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Dua kereta api penumpang bertabrakan secara frontal dalam peristiwa yang kemudian dikenang sebagai salah satu kecelakaan paling mematikan dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Kecelakaan tersebut melibatkan KA 225 yang melayani perjalanan dari arah Rangkasbitung dan KA 220 dari arah Tanah Abang. Tabrakan terjadi ketika kedua rangkaian kereta berada pada jalur yang sama.

Penelitian sejarah yang diterbitkan melalui jurnal mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta menguraikan bahwa insiden itu berkaitan dengan kesalahan komunikasi dan prosedur pemberangkatan kereta. Faktor manusia, kedisiplinan petugas, serta keterbatasan sarana turut menjadi perhatian dalam analisis penyebab kecelakaan.

Besarnya dampak tabrakan membuat proses evakuasi korban berlangsung dalam situasi yang sulit. Banyak penumpang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Tragedi tersebut menjadi salah satu bencana transportasi paling membekas dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Makna Angka 1910 dalam Karya Iwan Fals

Angka 1910 yang digunakan Iwan Fals bukanlah penanda tahun 1910, melainkan gabungan tanggal dan bulan terjadinya kecelakaan, yaitu tanggal 19 bulan 10 atau Oktober.

Baca Juga :  Ibukota Ukraina Hancur di Hujani Rudal oleh Rusia

Lagu tersebut menjadi bagian dari album 1910 yang dirilis pada 3 Maret 1988, beberapa bulan setelah tragedi Bintaro terjadi. Album itu turut mengabadikan nama peristiwa tersebut melalui karya musik yang bisa didengar lintas generasi.

Melalui 1910, Iwan Fals tidak hanya menggambarkan suasana duka setelah kecelakaan. Ia juga mengangkat pertanyaan mengenai tanggung jawab pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan transportasi.

Salah satu kekuatan lagu ini terletak pada kritik sosialnya. Iwan Fals mempertanyakan apakah ucapan belasungkawa saja cukup untuk menjawab penderitaan keluarga korban. Pesan tersebut membuat 1910 terasa lebih luas daripada sekadar lagu tentang kecelakaan kereta api.

Di dalamnya terdapat tuntutan agar sebuah tragedi tidak berhenti sebagai berita yang kemudian dilupakan. Kehilangan nyawa seharusnya menjadi alasan untuk mengevaluasi sistem, memperbaiki prosedur, dan mencegah kejadian serupa terulang.

Iwan Fals dan Tradisi Merekam Peristiwa Lewat Lagu

Iwan Fals dikenal sebagai musisi yang banyak mengangkat kehidupan masyarakat, ketimpangan sosial, dan persoalan kemanusiaan. Dalam sejumlah karyanya, ia menjadikan musik sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan yang dirasakan masyarakat.

Lagu 1910 memperlihatkan bagaimana musik dapat berfungsi sebagai pengingat sejarah. Peristiwa yang semula hadir melalui laporan berita dan kesaksian korban kemudian memperoleh ruang lain untuk dikenang melalui lirik dan melodi.

Tragedi Bintaro yang Tak Boleh Dilupakan

Hampir empat dekade setelah kecelakaan tersebut, Tragedi Bintaro masih menjadi bagian dari catatan kelam sejarah transportasi Indonesia. Peringatan atas peristiwa ini bukan semata-mata untuk mengulang kesedihan, melainkan juga untuk menjaga ingatan tentang pentingnya keselamatan perjalanan.

Lagu 1910 menjadi salah satu cara untuk merawat ingatan tersebut. Melalui karyanya, Iwan Fals mengajak pendengar melihat para korban bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan masa depan.

Kekuatan lagu ini terletak pada pesan yang tetap relevan: tragedi kemanusiaan tidak cukup dikenang melalui air mata dan ucapan belasungkawa. Ingatan itu perlu disertai tanggung jawab dan upaya nyata agar insiden serupa tidak kembali terjadi.