17 April 2026

Panen Kacang dengan Sistem Biosaka oleh DKPP Bojonegoro dan Gapoktan, Mengembalikan Kesuburan Tanah

Bojonegoro – Dalam upaya menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rejeki Desa Kunci, Kecamatan Dander, melakukan panen kacang dengan menggunakan metode biosaka. Biosaka merupakan salah satu metode pertanian ramah lingkungan yang mudah dan murah yang dapat diterapkan oleh petani.

RA. Retno Budiwidyanti, Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Perlindungan Tanaman Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, menjelaskan bahwa sebagian besar lahan pertanian di Bojonegoro memiliki kandungan C organik yang rendah. Hal ini disebabkan oleh penggunaan bahan kimia dalam jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menyehatkan kembali lahan tersebut adalah dengan menggunakan bahan alami atau organik.

Diharapkan penggunaan bahan alami seperti biosaka atau pupuk organik dapat terus disosialisasikan dan diterapkan di seluruh Bojonegoro. Pupuk organik yang didukung oleh biosaka, tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia, dapat memperbaiki sifat tanah dan mengembalikan kesuburan tanah yang diperlukan.

Biosaka, yang merupakan inovasi yang dikembangkan oleh petani dengan bahan baru-terbarukan yang melimpah di alam, terdiri dari dua suku kata. “Bio” berarti biologi dan “Saka” singkatan dari Selamatkan Alam Kembali Ke Alam. Metode biosaka telah membuktikan keefektifannya dalam meningkatkan hasil produksi dan mengurangi biaya produksi.

Mujianto, seorang petani yang menjalankan kegiatan ini, menjelaskan bahwa pada musim tanam sebelumnya, ia menggunakan pupuk NPK sebanyak 100 kilogram dan insektisida sebanyak 1 liter untuk lahan seluas 0,5 hektar, dan menghasilkan 3,15 ton polong basah.

Namun, setelah menerapkan metode biosaka dengan melakukan penyemprotan sebanyak 8 kali tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida sama sekali, hasil produksi kacang tanah pada musim tanam ini mencapai 3,6 ton polong basah. Hal ini menunjukkan perubahan yang signifikan dalam produktivitas.

“Dengan penggunaan biosaka, kami berhasil mengurangi biaya produksi dengan mengurangi penggunaan pupuk NPK dan insektisida. Selain itu, terjadi peningkatan hasil produksi sebanyak 0,9 ton per hektar,” jelasnya.

Pendapatan yang diperoleh oleh Mujianto menunjukkan peningkatan sebesar Rp 5 juta setelah menerapkan metode Biosaka. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan Biosaka merupakan salah satu solusi yang efektif dalam mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani.

Menurut penjelasan Mujianto, Biosaka bukanlah pupuk atau pestisida. Namun, Biosaka berfungsi sebagai elisitor yang memberikan sinyal untuk memperbaiki tanaman dan ekosistem. Pembuatan elisitor Biosaka tidak melibatkan mikroba atau proses fermentasi yang rumit. Proses pembuatannya hanya dilakukan dengan tangan tanpa menggunakan mesin.

Baca Juga :  Omset Menjanjikan, Warga Desa Kedungdowo Kecamatan Balen Olah Limbah Peternakan Jadi Pupuk Organik

Metode Biosaka memiliki tujuh kelebihan menurut penemunya. Pertama, Biosaka memiliki kinerja yang efektif yang dapat terlihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Kedua, metode ini dapat digunakan pada semua tahapan pertumbuhan tanaman, mulai dari benih hingga panen.

Ketiga, proses produksi Biosaka sangat cepat karena tidak melibatkan fermentasi yang memakan waktu. Keempat, penggunaan Biosaka mudah dilakukan dan dosis yang diperlukan sangat sedikit, yaitu sekitar 30 ml per tangki untuk tanaman kacang dengan penyemprotan sebanyak 8 kali dari penanaman hingga panen.

Kelima, metode ini dapat diterapkan pada berbagai komoditas tanaman, termasuk tanaman perkebunan. Keenam, penggunaan Biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50-90 persen, sehingga menghemat biaya produksi. Ketujuh, bahan baku Biosaka tersedia di sekitar lingkungan petani setiap saat.

Elisitor Biosaka dibuat dari rerumputan dan daun tanaman berpohon yang sedang dalam kondisi pertumbuhan optimal. Daun yang digunakan harus dalam keadaan sehat, tidak terkena hama, jamur, atau virus, dengan warna hijau segar, dan tidak terlalu tua atau muda. Kombinasi daun yang digunakan harus terdiri dari 5-20 jenis dedaunan.

Proses pembuatan elisitor Biosaka melibatkan rumput dan daun yang telah dipilih dimasukkan ke dalam ember yang berisi air. Jumlah air yang dibutuhkan sekitar 5-10 liter untuk satu genggam rumput sedang, atau 10-20 liter untuk satu genggam rumput besar. Rumput kemudian diremas pelan dengan pengadukan agar homogen.

Setelah sekitar 15-20 menit, peremasan dilakukan dengan tekanan lebih kuat sambil terus diaduk. Proses peremasan dihentikan ketika warnanya telah berubah menjadi coklat gelap secara homogen dengan sedikit busa.

Biosaka diaplikasikan menggunakan sprayer, dengan posisi nozzle menghadap ke atas sekitar 1 meter di atas tanaman. Nozzle diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan kabut yang menyebar secara merata pada daun tanaman sasaran dengan memperhatikan arah angin.

Pada hari Selasa, tanggal 2 Mei 2023, telah dilakukan panen kacang tanah yang telah diberi perlakuan Biosaka secara menyeluruh. Acara ini dihadiri oleh Tim Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Koordinator POPT Kabupaten Bojonegoro, UPT Proteksi TPH Wilker Bojonegoro, serta para petani yang terlibat dalam kegiatan tersebut. (sr//rn/lis)