19 Oktober 2026

Punk sejak dini, potret musik perlawanan lintas generasi di Synchronise Fest 2026

JAKARTA — Regenerasi musik punk
menjadi salah satu sorotan pada hari pertama Synchronize Fest 2026 lewat pertunjukan bertajuk Punk Sejak Dini. Digelar di XYZ Stage, penampilan ini menghadirkan musisi punk dari berbagai kelompok usia.

Pertunjukan tersebut melibatkan tiga grup, salah satunya Sakinah Mawaddah Warahmah yang digawangi Zea, siswa sekolah dasar, bersama ayah, ibu, dan pamannya. Mereka berbagi panggung dengan Sukses Lancar Rezeki, band punk yang beranggotakan pelajar SMA asal Bekasi dan dikenal lewat album Bisa Meledak.

Sukatani, musisi asal Purbalingga yang juga berprofesi sebagai guru, memimpin jalannya pertunjukan. Kehadirannya menjadi penghubung antargenerasi dalam panggung tersebut.

Salah satu hal menarik dari pertunjukan ini adalah cara
musik
punk
, yang lekat dengan semangat perlawanan, mengangkat persoalan sehari-hari dari sudut pandang berbagai kelompok usia. Sakinah Mawaddah Warahmah, yang tampil sebagai pembuka, menjadi gambaran bagaimana genre ini dapat menyuarakan pengalaman anak-anak melalui lagu-lagu mereka.

Sejumlah lagu yang dibawakan berkisah tentang hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan anak. Salah satunya adalah

Lambat

, yang kembali mereka bawakan malam itu. Lagu ini mengangkat kekesalan seorang anak terhadap anggota keluarga di rumah yang terlalu lama berada di kamar mandi hingga membuatnya terlambat beraktivitas.

Selain itu, mereka juga membawakan

Rumah Penuh Cinta

, lagu yang menggambarkan suasana rumah yang hangat dan membahagiakan. Melalui materi lagu tersebut, Sakinah Mawaddah Warahmah menunjukkan bahwa musik punk tidak melulu berbicara tentang perlawanan terhadap persoalan besar, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari.

Setelah Sakinah Mawaddah Warahmah, giliran Sukses Lancar Rezeki mengambil alih panggung. Band punk pelajar SMA asal Bekasi ini menyuarakan perlawanan melalui lagu-lagu yang mengangkat persoalan khas kehidupan remaja, dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian mereka.

Baca Juga :  PWI Jateng Tegaskan Dukung PWI KLB

Mereka membuka penampilan dengan lagu

Pulpen Ilang

, disusul

Mokel

dan

Mandi Pagi

. Set berikutnya berlanjut dengan

Pasar Bareng Emak

. Lewat deretan lagu tersebut, Sukses Lancar Rezeki membawa pengalaman sehari-hari anak muda ke dalam musik punk, menjadikan hal-hal sederhana sebagai bahan ekspresi sekaligus bentuk perlawanan mereka.

Sukatani kemudian mengambil alih panggung dengan membuka penampilan melalui lagu

Semakin Tua Semakin Punk

. Musisi asal Purbalingga itu melanjutkan set dengan sejumlah lagu lain yang mengajak penonton bergerak mengikuti irama. Suasana pun berubah meriah ketika penonton diajak berjoget bersama, menyerupai sesi senam pada malam hari.

Di tengah suasana tersebut, Sukatani juga membawakan lagu

Tumbal Proyek

.

“Di daerah kami, ada mitos bahwa orang hilang ditanam di dalam proyek. Hari ini, hal itu bukan sekadar mitos. Banyak orang dikorbankan demi sebuah proyek, mulai dari Kalimantan, Sumatra, hingga Papua,” katanya.

Menjelang akhir pertunjukan, Sukatani mengundang Sakinah Mawaddah Warahmah dan Sukses Lancar Rezeki untuk kembali ke panggung. Ketiga grup itu kemudian bernyanyi bersama, membawakan lagu-lagu mereka, mulai dari Ayo Main hingga Gelap Gempita. Momen tersebut menjadi penutup yang mempertemukan para musisi dari generasi berbeda dalam satu panggung.

Musik punk yang tumbuh pada pertengahan 1970-an sebagai bentuk perlawanan terhadap tatanan sosial, politik, dan budaya, terutama di kalangan kelas pekerja, menemukan ekspresi lain melalui panggung Punk Sejak Dini.

Perlawanan itu tidak hanya hadir dalam kritik terhadap persoalan sosial, tetapi juga melalui cerita keseharian yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja. Di Synchronize Fest 2026, musik punk sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan pengalaman mereka dengan cara sendiri.