22 April 2026

Diduga Ada Permainan, Universitas Wisnuwardhana Dinilai Legitimasi Kecurangan Seleksi Perangkat Desa Pragelan

Bojonegoro, – Dugaan masyarakat terhadap kemenangan anak Kepala Desa Pragelan, Kecamatan Gondang Areza Ade Nugraha, dalam seleksi perangkat desa akhirnya terbukti. Dengan nilai 59/100, Areza Ade Nugraha dinyatakan sebagai pemenang untuk formasi Kepala Dusun Randupitu, Rozy Iswanto dengan nilai 61/100 dinyatakan sebagai pemenang untuk formasi Kepala Dusun Pragelan dan Hesta Afita Nanda dengan nilai 60/100 dinyatakan sebagai pemenang untuk formasi Kaur Keuangan, mengalahkan pesaing lainnya. Ketiga pemenang untuk formasi Jabatan tersebut di isukan masyarakat adalah orang – orang titipan Kepala Desa Pragelan, Rumiati.

Kabar kemenangan tiga Orang tersebut sejatinya bukan hal mengejutkan. Sebab, sejak jauh hari sebelum ujian berlangsung, nama Areza, Rozy dan Hesta sudah santer disebut – sebut sebagai calon kuat pemenang. Masyarakat menduga proses seleksi hanya formalitas semata, dan hasilnya sudah diarahkan sejak awal.

Yang menjadi sorotan, Universitas Wisnuwardhana dari Malang yang digandeng sebagai penyusun dan pelaksana teknis ujian disebut telah memberi legitimasi terhadap hasil yang dianggap tidak transparan.

Ketua tim pelaksana teknis dari Universitas Wisnuwardhana, Dr. Ir. Sunyoto, ST., MT, saat dikonfirmasi, justru membela proses yang terjadi.

“Wajar saja kalau ada dugaan, orang punya hak untuk menduga. Terpenting kami dan panitia sudah melaksanakan setransparan mungkin,” ujarnya (11/6/2025).

Pernyataan ini bukannya menjawab keraguan masyarakat, malah mempertebal kesan bahwa universitas hanya menjalankan formalitas belaka. Apalagi, ketika ditanya soal kemungkinan kebocoran soal, Sunyoto mengklaim bahwa tidak mungkin terjadi dan mengandalkan perjanjian kerja sama (MoU) sebagai jaminan integritas.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Nilai ke tiga orang pemenang tersebut yang melonjak tinggi serta nyaris sama hingga meninggalkan peserta lain, padahal santer disebut – sebut akan menang sejak awal, semakin memperkuat dugaan adanya pengondisian. Beberapa peserta bahkan mengaku heran dengan hasil yang dinilai tidak mencerminkan kemampuan nyata di lapangan.

Baca Juga :  Beredar Akun WhatsApp Palsu Mengatasnamakan Kepala DPKP-CK, Warga Diimbau Waspada

“Transparansi yang diklaim pihak ketiga seakan hanya tameng untuk menutupi skenario yang sudah disiapkan sejak awal,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.

Persoalan ini mempermalukan dunia akademik, di mana Universitas Wisnuwardhana yang seharusnya menjunjung nilai objektivitas dan kejujuran ilmiah, malah diduga kuat turut serta dalam proses yang cacat dan sarat kepentingan.

Kini publik menanti langkah tegas dari pihak berwenang untuk menyelidiki proses seleksi tersebut. Sebab, jika dugaan ini dibiarkan begitu saja, maka ke depan demokrasi desa terutama di Kabupaten Bojonegoro akan terus dikotori oleh praktik nepotisme yang dibungkus dengan nama “kerja sama akademik”.(red)