14 Januari 2026

Ketika Masjid An-Nahda Berganti Nama

Oleh: Su’udin Aziz

“Apalah arti sebuah nama” begitu kata sebuah unen-unen entah siapa yang mengucapkan.

Benarkah sebuah nama atau arti sebuah nama itu tidak penting? Tentu saja tidak demikian kenyataannya.

Ada hadits Nabi yang menjelaskan, bahwa termasuk kewajiban orangtua terhadap anaknya, urutan pertama adalah memberikan nama anak yang baru lahir dengan nama yang baik.

Banyak kalangan juga mengatakan bahwa nama itu menjadi doa, orang Jawa ada yang menamai anaknya dengan Bejo, agar dia kelak manjadi orang yang selalu beruntung. Ada yang menamai anaknya Slamet, agar anak tersebut selalu selamat dan sebagainya.

Jika nama itu tidak penting, mengapa segala sesuatu punya nama? Pernahkah kita berpikir, sesuatu apa yang selalu ada pada setiap sesuatu? Jawabannya ‘nama’. Demikianlah pentingnya nama.

Keberadaan Masjid

Beberapa waktu lalu, Bojonegoro mempunyai masjid yang karena bangunannya megah nan indah, kemudian masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata di kabupaten ini.

Masjid ini dinamai An-Nahda dan terletak di Bojonegoro bagian ujung barat tepatnya di Kecamatan Margomulyo. Masjid ini dibangun dengan dana bersumber dari APBD Bojonegoro dan bisa menampung kisaran 1800-an jamaah.

Nama ‘An-Nahda’ berarti ‘kebangkitan’. ‘Bangkit’ adalah kata yang positif, kemungkinan besar pembangunan masjid yang besar dan megah di daerah ujung Bojonegoro ini, bertujuan agar Islam di daerah tersebut bangkit, menyebar, dan kokoh.

Memang nama ini bukan merupakan asma’ul husna atau nama atau sifat Tuhan seperti nama pada umunya masjid; ‘Baiturrahman’, ‘Baiturrahim’, ‘Baitul Muttaqin’ dan sebagainya. Namun, nama An-Nahda juga tidak salah lantaran tiak menyalahi kaidah pemberian nama.

Nama masjid pada umumnya jika ada kata ‘bait’ yang berarti ‘rumah’ itu disandarkan pada sifat satu namanya Tuhan, atau disandarkan pada ‘mukmin, muslim, atau muttaqin’ yang berati orang beriman, orang Islam, dan orang bertaqwa.

Baca Juga :  Jalankan Program Unggulan KASAD, Satgas TMMD 125 Bojonegoro bersih-bersih Lingkungan Sumber Air

Penyandaran ini, sesuai dan tidak bermasalah karena memang pada kenyataannya demikian, masjid ya rumahnya Allah, atau rumahnya orang yang menyembah pada Allah.

Urgensi ‘Nama Baru’

Berita terbaru, nama masjid tersebut diganti dengan nama ‘Samin Baitul Muttaqin’. Sampai tulisan ini ditulis, tidak diketahui pasti apa maksud dari nama tersebut. Jika hanya Baitul Muttaqin clear. No problem.

Tetapi, jika ada kata yang disandarkan pada dua kata tersebut, apalagi yang bersandar pada dua kata tersebut adalah sebuah ‘suku’ atau kelompok sesepuh daerah tersebut (Samin) maka menjadi aneh, kira-kira arti letterlik-nya Samin rumah orang-orang bertaqwa. Aneh bukan?

Penolakan pergantian nama ini sebenarnya sudah muncul dari salah satu Fraksi di DPRD Bojonegoro, dengan alasan perubahan nama untuk masjid ini tidak substansial, tidak ada urgensinya.

Bahasa warung kopinya ‘kurang gawean’. Selain nama An-Nahda sudah dikenal oleh banyak wisatawan, baik dalam maupun luar daerah bahkan provinsi, pergantian ini akan memicu ‘kegaduhan’.

Ada kaidah Fikih yang dulu sering didengungkan presiden Gus Dur, ‘Tashorrufu-l imam ‘ala-r ra’iyyati manuthun bi-l maslahah’ yang berarti, kebijakan (tindakan) seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan (kepentingan umum atau kesejahteraan).

Jika pergantian nama ini tidak ada maslahah, bukan kepentingan umum, dan tidak untuk kesejahteraan rakyat, harusnya langkah ini tidak boleh diambil oleh pemimpin.

Penulis adalah Santri Pesantren Gubuk Taqrib (red)