16 April 2026

KONTROVERSI ISTILAH MALIOGORO

Bojonegoro – Maliogoro, sebuah kata yang akhir-akhir ini viral di jagad media sosial Bojonegoro. Apa itu Maliogoro? Usut punya usut, ternyata Maliogoro adalah sebutan untuk Jl. MH. Thamrin yang kini tengah bertransformasi lebih cantik. Keberadaannya menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung baik masyarakat sekitar maupun sisi luar dari kawasan kota. Para pelaku ekonomi juga diuntungkan dengan situasi tersebut, bukan hanya PKL tapi juga pekerja seni.

Tapi istilah Maliogoro jadi kontroversi di media sosial. Beberapa masyarakat lokal menganggap itu plagiat, dan tidak menunjukkan jati diri Bojonegoro. Lalu dari mana muncul istilah Maliogoro?

Tentu saja hal itu mengerucut pada salah satu nama jalan paling fenomenal di Indonesia dan Jogjakarta khususnya, yaitu Jl. Malioboro atau yang biasa disebut Malioboro saja. Malioboro yang berarti karangan bunga, diambil dari nama kolonial Inggris Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811 – 1816 M. Malioboro mulai ramai di era 1790 saat Belanda membangun benteng Vredeburg di ujung selatan jalan ini. Juga dibangun Dutch Club pada tahun 1822, The Governir’s Residence tahun 1830, Java Bank dan Kantor Pos tak lama setelahnya.

Yang awalnya pusat pemerintahan dan perekonomian, Malioboro juga bertransformasi dari waktu ke waktu. Bahkan saat ini lebih dikenal sebagai objek wisata dengan berbagai macam fasilitas dan ornamennya.

Lalu bagaimana dengan Maliogoro?

Orang-orang mulai mencari nama sesuai untuk ikon baru Bojonegoro tersebut. Namun, yang harus kita garis bawahi adalah, Pemerintah Bojonegoro tidak pernah memberi nama Maliogoro. Itu murni branding dari masyarakat sendiri, karena membandingkan jalan yang berada di sisi paling barat kota Bojonegoro tersebut dengan Malioboro.

Lalu semua kembali lagi kepada kita sebagai masyarakat bagaimana menyikapinya. Tidak ada yang melarang untuk menyebutnya Maliogoro. Tapi, jika mengacu ke Malioboro, itu juga sebuah nama jalan. Sedangkan Maliogoro? Ada baiknya kita sebut saja Jl. MH. Thamrin. Karena kembali lagi, bahwa MH. Thamrin adalah jalan alih-alih sebuah taman. Yang membuat berbeda adalah adanya trotoar dengan berbagai fasilitas dan ornamen yang cantik.(ypa/rn)

Baca Juga :  Pramuka Jangan Terjebak di Rutinitas tanpa Makna

Ditulis oleh: Yanuar Panji Abadi (Founder Media Bojonegoro)