23 Juli 2026

Sri Wahyuni : Tak Kenal Kota Besar, SMAN 1 Bubulan Buktikan Talenta STEM Bisa Lahir dari Desa

Ragamnusantara.id, – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh pelajar asal daerah. Dua siswi SMAN 1 Bubulan, Kabupaten Bojonegoro, berhasil menyabet Juara II Nasional dalam ajang Wonderful Indonesia Robot Challenge (WIRC) 2026 berkat robot ciptaan mereka sendiri. Capaian ini pun menarik perhatian Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, yang secara khusus mendatangi sekolah tersebut untuk memberikan apresiasi langsung.

Dua siswi yang menjadi sorotan tersebut adalah Mahera Nur Fadhila dan Laelatul ‘Aini Dwi Fitriya. Keduanya merupakan pelajar SMAN 1 Bubulan yang selama ini menekuni bidang robotika di bawah bimbingan guru pembina, Marmono, S.Pd., M.M.

Mahera dan Laelatul berhasil meraih Juara II Nasional kategori Robot Soccer RC Basic Senior. Tak hanya itu, keduanya juga unjuk kebolehan dalam kategori Robot Maze Solving First Step U-19, yang menuntut kemampuan pemrograman robot untuk menyelesaikan tantangan labirin secara mandiri.

Ajang WIRC 2026 digelar pada 4–6 Juli 2026 di Jatim Park 3, Kota Batu, Malang. Kompetisi ini mempertemukan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, menjadikan capaian dua siswi asal Bubulan tersebut semakin berarti karena mampu bersaing dengan peserta dari kota-kota besar.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni, menilai keberhasilan ini membuktikan bahwa potensi pelajar tidak melulu lahir dari sekolah-sekolah di kota besar. Menurutnya, dari sekolah yang berada di wilayah pelosok seperti Bubulan pun, talenta di bidang teknologi tetap bisa tumbuh dan bersaing di tingkat nasional.

Ia juga menyoroti keberanian dan kreativitas para siswi dalam mengasah kemampuan di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

“Anak-anak seperti ini harus terus didukung. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi,” ujar Sri Wahyuni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/7/2026).

Senada dengan itu, Kepala SMAN 1 Bubulan, Dziyaus Shobah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa prestasi tersebut merupakan buah dari kerja keras dan dedikasi kedua siswinya selama menjalani proses pembinaan. Ia turut mengapresiasi peran guru pembimbing serta semua pihak yang telah mendukung tim robotika sekolah tersebut.

Baca Juga :  Sat Binmas Polres Bojonegoro Gelar Binluh di SMA Plus Al-Fatimah

“Prestasi ini memperkuat komitmen SMAN 1 Bubulan dalam mencetak generasi muda yang inovatif, kreatif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi di era digital,” katanya.

Di balik robot yang mampu bergerak lincah dan menyelesaikan berbagai tantangan, tersimpan proses panjang yang tidak selalu mulus. Mahera dan Laelatul harus melalui latihan berulang kali, memperbaiki kesalahan program, menguji ulang sistem robot, hingga membangun kekompakan tim secara bertahap.

Kunjungan Sri Wahyuni ke SMAN 1 Bubulan menjadi momen tersendiri. Ia tidak hanya mengamati dengan saksama setiap gerakan robot yang dikendalikan para siswi, tetapi juga ikut mencoba langsung mengoperasikan robot tersebut. Dalam kesempatan itu, ia turut mendengar langsung cerita perjuangan di balik prestasi nasional yang diraih kedua siswi.

Mahera Nur Fadhila mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. Ia menyebut keberhasilan itu tidak lepas dari latihan yang konsisten, doa orang tua, serta bimbingan guru dan pembina. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas raihan Juara II Tingkat Nasional pada kategori Robot Soccer dan Robot Maze Solving di WIRC 2026,” ucapnya.

Sementara itu, bagi Laelatul ‘Aini Dwi Fitriya, kompetisi tersebut memberi pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar piala, yakni soal kerja sama, semangat pantang menyerah, dan keberanian untuk terus mencoba. Ia berharap prestasi ini bisa menginspirasi rekan-rekannya. “Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi teman-teman SMAN 1 Bubulan untuk berani berkarya, berprestasi, dan membawa nama sekolah semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” harapnya.

Momen ketika Sri Wahyuni mencoba menggerakkan robot karya kedua siswi tersebut seolah menegaskan satu pesan sederhana: teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium besar. Ia bisa tumbuh dari ruang kelas sekolah pinggiran, dari rasa ingin tahu, latihan yang tak kenal lelah, serta keberanian untuk terus mencoba.(sr)