27 Mei 2026

Jembatan di Atas Air yang Tak Pergi: Potret Gotong Royong dan Realita Banjir Lima Bulan di Bengawan Jero

LAMONGAN — Di Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, waktu seolah berhenti di satu titik: air yang tak kunjung surut. Apa yang oleh sebagian pihak disebut “genangan”, di mata warga telah lama berubah menjadi banjir yang menetap—bukan hitungan hari, melainkan lima bulan lamanya.

Sejak November 2025, air datang tanpa jeda. Hingga Maret 2026, ia masih setia menggenangi rumah, jalan, hingga ruang hidup warga. Ketinggian sekitar 30 sentimeter di dalam rumah bukan sekadar angka, melainkan batas tipis antara bertahan dan menyerah.

Pernyataan itu ditegaskan langsung oleh Suparjo, Kepala Dusun Bojoasri: “Lima bulan, bukan 90 hari. Sejak November air sudah datang dan sampai sekarang masih ada. Di depan rumah saya sekitar 30 sentimeter.”

Ia pun menyoroti istilah yang selama ini digunakan. “Sebenarnya, kata ‘genangan’ itu menyakitkan bagi kami. Ini bukan lagi genangan—ini sudah banjir. Rasanya seperti banjir dulu, baru ada antisipasi.”

Di titik ini, bahasa terasa halus, namun realita tetap keras.

Realita di Lapangan: Hidup di Atas Air

Hari-hari di Bojoasri kini berjalan di atas ketidakpastian. Jalan desa hilang ditelan luapan Bengawan Jero, memutus akses utama yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi warga. Aktivitas sehari-hari—dari bekerja, bersekolah, hingga bersosialisasi—terpaksa dilakukan dengan cara yang tak biasa.

Rakit bambu menjadi alat mobilitas. Air yang mulai berbau menjadi bagian dari udara yang dihirup setiap hari. Risiko penyakit kulit hingga terganggunya kesehatan menjadi ancaman nyata.

Menjelang Idul Fitri 1447 H, suasana yang biasanya hangat oleh silaturahmi justru dibayangi keterbatasan. Bukan karena warga tak ingin merayakan, tetapi karena ruang untuk merayakan itu sendiri telah lama terendam.

Namun di tengah keterbatasan itu, lahirlah sesuatu yang tak bisa ditenggelamkan: gotong royong.

Jembatan Bambu: Simbol Perlawanan dan Harga Diri

Tanpa menunggu bantuan yang belum pasti datang, warga Dusun Dondomaman berinisiatif membangun jembatan bambu darurat secara swadaya. Bukan proyek besar, bukan pula program resmi—melainkan murni dari kantong dan tenaga masyarakat.

Afifuddin, salah satu warga, menyebut jembatan ini bukan sekadar akses, tetapi soal martabat.

“Kami tidak mau lebaran nanti tamu harus nyemplung air. Jembatan ini kami bangun agar silaturahmi tetap jalan. Kalau menunggu air kering, mungkin lebaran tahun depan baru bisa salaman.”

Tanpa proposal, tanpa birokrasi, dana dikumpulkan secara komunal. Para pria bekerja di bawah terik matahari, merakit bambu di atas air yang tak bersahabat. Semua dilakukan demi satu hal sederhana: agar hubungan antar manusia tetap terjaga.

Jembatan itu kini hampir rampung—menjadi simbol bahwa di tengah keterbatasan, solidaritas justru tumbuh semakin kuat.

Penjelasan Pemerintah: Antara Kendala Sistem dan Harapan Kebijakan

Fenomena kemandirian warga ini mendapat apresiasi dari Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, S.Ag, M.Pd.

“Apa yang dilakukan masyarakat Bojoasri adalah langkah cerdas dalam situasi terbatas. Spirit gotong royongnya luar biasa. Ini bagian dari edukasi mitigasi bencana yang riil di lapangan,” ujarnya.

Baca Juga :  DKPP Bojonegoro Dorong Petani Manfaatkan Program Peminjaman Alsintan Gratis, Tingkatkan Produksi Pertanian

Namun, ketika disinggung soal lambatnya pembangunan fisik, ia mengakui adanya kendala sistemik—terutama terkait transisi tahun anggaran yang kerap menghambat realisasi program infrastruktur.

“Selama ini penanganan lebih fokus pada korban, seperti kesehatan dan bantuan sosial. Ke depan, harus ada alokasi khusus untuk infrastruktur darurat agar respons lebih cepat,” jelasnya.

Pernyataan ini menggambarkan adanya kesenjangan antara kebutuhan mendesak di lapangan dan mekanisme birokrasi yang berjalan.

Pertanyaan yang Mengendap: Kemarau yang Terlewatkan

Di balik banjir yang berkepanjangan, warga menyoroti satu hal yang lebih dalam: siklus yang terus berulang tanpa solusi tuntas.

Saat musim kemarau tiba—ketika air surut dan akses terbuka—seharusnya itulah momentum terbaik untuk melakukan normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, dan pembenahan drainase.

Namun yang dirasakan warga, momen itu justru berlalu tanpa tindakan berarti.

“Kalau saat kering tidak dikerjakan, lalu kapan lagi?” menjadi pertanyaan yang terus hidup tanpa jawaban pasti.

Akibatnya, ketika hujan kembali datang, air kembali menggenang—mengisi ruang yang sejak awal tak pernah benar-benar disiapkan untuk mengalir.

Suara Lain dari Bengawan Jero: Kecurigaan yang Menguat

Keluhan serupa juga datang dari warga lain di kawasan Bengawan Jero, meski memilih anonim.

“Ini sudah biasa setiap tahun. Mau mengeluh juga percuma, ujungnya hanya menguntungkan orang atas saja.”

Nada pasrah itu menyimpan kekecewaan mendalam. Bahkan muncul kecurigaan bahwa kondisi ini seolah menjadi siklus yang dimanfaatkan.

“Kalau begini terus, bantuan ke pusat bisa terus diajukan. Tapi apakah menyelesaikan masalah? Tidak.”

Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa persoalan banjir tak lagi sekadar teknis, tetapi telah menyentuh ranah kepercayaan publik.

Antara Seremonial dan Realitas

Di tengah kondisi yang menahan langkah ekonomi warga, aktivitas seremonial tetap berjalan. Namun bagi mereka yang hidup di atas genangan, yang terasa hanyalah penantian panjang tanpa kepastian.

Ini bukan sekadar persoalan anggaran. Ini tentang arah kebijakan. Tentang keberpihakan. Tentang keseriusan menyentuh akar masalah, bukan hanya permukaannya.

Penutup: Antara Air dan Keadilan

Bengawan Jero hari ini bukan hanya wilayah yang tergenang, tetapi cermin besar dari persoalan yang terus berulang.

Di satu sisi, warga menunjukkan ketangguhan luar biasa—membangun jembatan dari bambu, menjaga silaturahmi di atas air, dan mempertahankan harapan di tengah keterbatasan.

Di sisi lain, pertanyaan besar tetap menggantung: Apakah ini akan terus menjadi kebiasaan, atau akan diakhiri dengan keberanian?

Sebab pada akhirnya, air mungkin saja tetap tinggal. Namun keadilan—tak seharusnya ikut tenggelam.

Dan dari Bojoasri, suara itu masih mengalir: Ini bukan sekadar genangan. Ini bukan sekadar banjir. Ini adalah kenyataan yang berulang—dan kesabaran yang terus diuji. (red)