29 April 2026

Presiden Iran Tuduh Israel Rencanakan Pembunuhan, Beri Syarat Baru untuk Dialog Nuklir

Ragam Nusantara ID, – Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa Israel diduga kuat telah mencoba membunuhnya melalui serangan udara yang diarahkan ke lokasi rapat yang sedang ia hadiri.

Pernyataan mengejutkan ini disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan tokoh media asal Amerika Serikat (AS), Tucker Carlson, yang dirilis Senin (7/7/2025) dan menjadi salah satu wawancara pertama Pezeshkian dengan media Barat sejak pecahnya konflik 12 hari antara Iran dan Israel bulan lalu.

Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian menegaskan bahwa percobaan pembunuhan terhadap dirinya bukan berasal dari Amerika Serikat, melainkan langsung dari Tel Aviv. “Mereka memang mencoba. Mereka bertindak sesuai rencana, tetapi mereka gagal,” ujarnya kepada Carlson melalui penerjemah.

“Itu bukan Amerika Serikat. Itu Israel. Saya sedang berada dalam sebuah rapat… mereka mencoba membombardir area tempat kami menggelar pertemuan itu,” tambahnya, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (8/7/2025).

Namun demikian, Pezeshkian tidak secara eksplisit menjelaskan apakah serangan tersebut terjadi selama perang 12 hari atau pada momen lainnya. Meski begitu, tuduhan ini mempertegas bahwa eskalasi antara Teheran dan Tel Aviv telah melampaui dimensi militer dan masuk ke ranah politik tingkat tinggi.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa dirinya pernah mencegah upaya Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86), yang dilaporkan menghilang dari publik selama hampir tiga pekan. Baru pada akhir pekan lalu, Khamenei kembali muncul dalam sebuah upacara keagamaan di Teheran, menandai akhir dari spekulasi panjang mengenai kondisinya.

Jika benar Israel menargetkan Pezeshkian yang baru menjabat tahun lalu, maka langkah ini akan menandai perubahan strategis yang signifikan. Artinya, selain menyerang infrastruktur militer dan ilmuwan nuklir Iran, Tel Aviv juga mengarah pada penggulingan kepemimpinan sipil. Selama perang 12 hari, Israel mengklaim telah membunuh lebih dari 30 pejabat tinggi keamanan dan 11 ilmuwan nuklir Iran serta menghancurkan tiga fasilitas nuklir utama negara tersebut.

Menariknya, baik Pezeshkian maupun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tidak menunjukkan tanda-tanda menghindari publik. Keduanya bahkan tetap aktif menghadiri acara pemakaman di dalam negeri dan melakukan perjalanan diplomatik ke luar negeri. Pezeshkian menghadiri KTT di Azerbaijan, sementara Araghchi berkunjung ke Brasil, Mesir, dan Moskow.

Baca Juga :  MPR Senang MK Tolak Syarat S1 Capres-Cawapres

Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian kembali menekankan bahwa Iran bukanlah pihak yang memulai konflik. “Kami tidak memulai perang ini dan kami tidak ingin perang ini berlanjut dalam bentuk apa pun,” ujarnya tegas. Ia juga menegaskan bahwa kampanyenya sebagai presiden bertujuan menciptakan persatuan nasional dan mempererat hubungan dengan negara-negara tetangga.

Lebih lanjut, ia menyampaikan kesiapan Iran untuk melanjutkan perundingan nuklir selama ada jaminan bahwa serangan militer dari pihak ketiga tidak akan terulang. “Kami tidak punya masalah untuk kembali ke meja perundingan,” katanya. “Namun, ada satu syarat… Bagaimana kami bisa kembali mempercayai Amerika Serikat? Jika kami kembali ke meja perundingan, bagaimana kami bisa yakin bahwa di tengah proses itu rezim Israel tidak diberi izin lagi untuk menyerang kami?”

Menanggapi tudingan bahwa Iran berusaha membunuh Donald Trump, Pezeshkian secara tegas membantahnya. Ia menilai klaim semacam itu tidak berdasar dan hanya memperkeruh suasana diplomatik yang sudah genting.

Ketika ditanya apakah Iran akan kembali mengizinkan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) masuk ke fasilitas nuklirnya, Pezeshkian menjawab bahwa akses belum memungkinkan karena kerusakan yang terjadi sangat parah.

“Kami masih belum mengetahui sejauh mana kerusakan yang terjadi di situs-situs nuklir kami. Akses saat ini belum memungkinkan karena kerusakan parah. Setelah akses dipulihkan, barulah kami bisa mempertimbangkan inspeksi,” jelasnya. Ia juga menyayangkan sikap diam IAEA atas serangan yang disebutnya bertentangan dengan hukum internasional dan telah merusak kepercayaan publik Iran terhadap lembaga internasional itu.

Wawancara ini membuka babak baru dalam relasi geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Jika benar percobaan pembunuhan ini terjadi, maka dinamika kawasan Timur Tengah akan semakin sulit diprediksi. Pemimpin baru Iran kini tidak hanya menghadapi tekanan dari luar negeri, tetapi juga harus mengelola ekspektasi tinggi di dalam negeri terkait keamanan, diplomasi, dan kelangsungan program nuklirnya.(red)